8 Bandara Internasional Dibidik Turun Kelas Sejak 2020, Ini Profilnya

Tak Berkategori

TEMPO.CO, Jakarta – Dirjen Perhubungan Udara atau DJPU baru-baru ini mengganti kategori Bandara Radin Inten II Lampung dari bandara internasional menjadi bandara domestik. Lapangan penerbangan ini sebenarnya telah masuk ke dalam daftar delapan bandara turun kelas pada 2020 lalu.

Di Indonesia, dari 340 bandara, hanya ada 32 bandara internasional. Lainnya, 308 merupakan bandara domestik, termasuk Bandara Radin Inten II Lampung.

Melaui surat usulan DJPU kepada Menteri Perhubungan tertarikh Juli 2020. Surat bernomor Au.003/1/8/ORJU.DBU-2020 memuat rincin bandara yang diusulkan untuk diubah statusnya dari bandara internasional menjadi domestik.

Delapan bandara tersebut meliputi Bandara Maimun Saleh, Sabang, Bandara RHF Tanjungpinang. Kemudian, Bandara Radin Inten II, Lampung, Pattimura, Ambon, Frans Kaisiepo, Biak, Banyuwangi, Husein Sastranegara, Bandung, dan Mopah, Merauke. 

Wacana ini kembali ditegaskan Presiden Joko Widodo atau Jokowi, Selasa 31 Januari 2023. Ia mengatakan, akan memangkas Bandara Internasional menjadi 15 saja. Penegasan ini, disampaikan Presiden Jokowi saat rapat bersama Menteri BUMN dan Menteri Perhubungan, pelaku industri pariwisata saat itu. 

Bandara Radin Inten II Lampung yang turun kasta dialami atau Bandara RHF Tanjung Pinang, Riau. Meskipun, di laman resmi Kementerian Bandara Haji Fisabilillah Tanjungpinang masih berstatus internasional.

Kebijakan ini berpotensi membuat Bandara RHF Tanjungpinang pun turun kelas. Karena sampai saat ini, status sebagai Bandara Internasional belum digunakan. 

Direktorat Jenderal Perhubungan Udara, melalui laman resminya pada Sabtu, 5 Agustus 2023, menyebutkan kategori Bandara Radin Inten. “Bandara Radin Inten II Lampung, dengan kode IATA TKG berkategori domestik,” tulis keterangan dalam bentuk tabel dalam laman Direktorat Jenderal Perhubungan Udara tersebut.

Berikut profil singkat 8 bandara internasional disebut akan turun kelas menjadi bandara domestik pada 2020:

1. Bandara Radin Inten II Lampung

Dilansir dari Angkasapura2.co.id, Bandara Radin Inten II Lampung adalah sebuah bandar udara yang melayani penerbangan di dan ke kota Bandar Lampung. Namanya diambil dari nama Sultan Lampung terakhir, Radin Inten II. Letaknya di Jalan Branti Raya di Branti, Natar, barat laut Bandar Lampung Kabupaten Lampung Selatan. Bandara ini merupakan satu-satunya bandara komersial di provinsi Lampung.

2. Bandara Maimun Saleh

Bandara Maimun Saleh adalah bandar udara yang terletak di Gampong Cot Ba’U Kota Sabang, Aceh. Bandara ini dibangun pada masa Hindia Belanda. Era kedudukan Jepang, bandara ini berperan penting bagi tentara jepang. Nama Maimun Saleh diambil dari nama seorang prajurit penerbang asal Aceh. Maimun gugur dalam kecelakaan saat menerbangkan pesawat intai Auster IV-R-80 di Pangkalan Udara Semplak Bogor pada 1952.

3. Bandara Raja Haji Fisabilillah

Bandar Raja Haji Fisabilillah adalah bandar udara yang terletak di Kota Tanjungpinang, provinsi Kepulauan Riau. Bandara ini dikelola PT. Angkasa Pura II. Pada April 2008 bandara ini resmi berganti nama dari Bandar Udara Kijang menjadi Bandar Udara Internasional Raja Haji Fisabilillah. Namanya diambil dari nama Raja Haji Fisabilillah, pahlawan nasional yang juga memperoleh Bintang Maha Putra Adi Pradana.

Iklan

4. Bandara Pattimura

Bandara Pattimura terletak di Ambon. Bandara ini memperoleh penghargaan bandara terbaik di Kawasan Asia Pasifik untuk kategori bandara dengan kapasitas kurang dari dua juta penumpang per tahun. Penghargaan tersebut diberikan oleh Airport Council International yang berlokasi di Montreal, Kanada.

5. Bandara Frans Kaisiepo

Melansir laman Kebudayaan.kemdikbud.go.id, Bandara Frans Kaisiepo terletak di Pulau Biak. Sejarah perkembangan kota Biak menyatu dengan sejarah pendirian Bandara Frans Kaisiepo. Bandara ini didirikan Jepang pada 1943. Posisi Pulau Biak yang dekat dengan Samudra Pasifik membuat pulau karang ini penting bagi Jepang dalam memenuhi ambisinya saat itu untuk mengobarkan perang di Pasifik.

Namanya diambil dari nama salah satu tokoh integrasi Papua ke Indonesia. Kaisiepo adalah orang yang mengusulkan nama “Irian” untuk menyebut Papua. Pada 1990-an, Bandara Frans Kaisiepo memainkan fungsi penting sebagai bandara internasional. Namun, saat krisis moneter pada 1998, peranan Bandara Frans Kaisiepo sebagai bandara internasional berakhir.

6. Bandara Banyuwangi

Menukil laman Angkasa Pura II, Bandara Banyuwangi terletak di Desa Blimbingsari, Kecamatan Blimbingsari, Banyuwangi, Jawa Timur. Bandara dengan landas pacu 2.250 meter ini dibuka pada 29 Desember 2010. Diklaim sebagai bandara hijau pertama di Indonesia. Selain berfungsi sebagai bandara komersial, Bandar Udara Banyuwangi juga digunakan untuk keperluan pendidikan penerbangan.

7. Bandara Husein Sastranegara

Bandara Husein Sastranegara adalah sebuah bandar udara internasional yang terletak di Jalan Pajajaran Nomor. 156, kelurahan Husen Sastranegara, kecamatan Cicendo, kota Bandung. Pada awalnya bandara ini merupakan peninggalan Pemerintah Hindia Belanda dengan sebutan Lapangan Terbang Andir. Nama Husein Sastranegara diambil dari nama seorang pilot militer AURI yang gugur pada saat latihan terbang di Yogyakarta 26 September 1946. Pada masa penjajahan Jepang daerah tersebut dijadikan basis Pasukan Udara Angkatan Darat Kekaisaran Jepang.

8. Bandara Mopah

Melansir dari Dephub.go.id, Bandara Mopah terletak di Merauke, dibangun pada 1943 khusus untuk keperluan darurat perang. Saat ini bandara ini melayani penerbangan ke Jayapura, Timika, Makassar, Surabaya serta Jakarta. Dengan panjang landasan 2.250 meter. Bisa didarati oleh jenis pesawat Boeing 737 series.

HENDRIK KHOIRUL MUHID | FRANCISCA CHRISTY ROSANA | ACHMAD HANIF IMADUDDIN 

Pilihan Editor: 8 Bandara Dikabarkan Turun Kelas, kemenhub: Masih Dibahas Internal



Quoted From Many Source

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *